... tentang pindah rumah??? Mmh... berapa kali sudah kami jalani? ...
Ternyata meski hidup dengan -keluarga besar kami- yang selalu berpindah-pindah, kusadari sekarang- aku tidak terlalu keberatan dengan hal ini, mungkin karena aku telah menerimanya sebagai bagian dari perjalanan hidup yang harus kulalui alias memang sudah nasibnya begitu, hihihi... terdengar pasrah banget yah!.
Satu hal yang aku sesali dari seringnya pindah rumah adalah; tidak ada 'rumah tua' penuh kenangan yang menyambut kedatanganku. Analoginya menjadi; tidak ada perasaan seperti berlari kepelukan nenek yang berjarik lusuh.
Dalam benakku adalah rumah panggung dengan langit-langit dapur hitam berjelaga, lantai kayu 'kriyuuk' saat diinjak dan licin berkilat berkat gosokan ampas kelapa, atau tempat peraduan dengan aroma obat nyamuk bakar menguar menggantung di udara. Pengaruh masa kecil di rumah tetangga dengan rumah panggung kuno dari kayu-kayu kokoh, sungguh menyenangkan.
Saat masih usia awal SD, itulah pertama kali aku mengalami pengalaman pindah rumah. Yang sibuk dan terlibat langsung tentulah kedua orang tuaku, kami hanya menyelamatkan mainan atau boneka kami atau menyimpan pernak-pernik berdebu yang selama ini terselip di belakang lemari.
Waktu itu banyak barang yang ditinggal atau diberikan kepada tetangga. Lemari putih besar, salah satunya.
Lemari itu begitu tinggi (mungkin karena waktu itu aku masih pendek) dan menempel di dinding kamar. Beberapa tingkat di bagian dasar dijadikan sebagai lemari pakaian. Pojok sebelah kiri di dua tingkat tertinggi di bagian atas lemari adalah pojok favoritku, tempat aku menyimpan boneka kecil bermantel biru, botol susu kecil miliknya dan baju-baju kecil milik si boneka berambut keriting juga pernak-pernik kesayangan lainnya.
Setiap kali aku bermain dan bercerita dengan boneka yang rumahnya di lemari tinggi itu, aku harus manjat ke kursi rotan untuk meraihnya. Kalau terlihat, Mama akan menyuruh turun -tidak boleh memanjat. Heran kenapa aku memilihkan apartemen setinggi itu untuk sebuah boneka kecil? Supaya tidak diganggu oleh adik-adikku yang suka gratilan...hehehe....
Sedih rasanya saat lemari putih itu tidak dibawa ikut pindah. Dari situ aku menyadari, jika suatu saat kami pindah rumah lagi, akan semakin banyak barang yang tidak ikut diangkut dengan alasan kepraktisan atau tak berguna lagi, dan memang demikian adanya... banyak benda masa kecil yang masih kuingat hingga sekarang, tapi tak tahu dimana rimbanya.
Setelah dewasa, ini menjadi dilema sendiri. Karena setelah Papa tiada, kami secara priodik masih menghadapi hal yang sama yaitu; pindah rumah. Bedanya sekarang ini kami yang menjadi eksekutor terhadap beberapa benda; ikut pindah, diberikan kepada orang lain, atau dibuang.
Tips buat teman-teman; selama belum punya tempat tinggal tetap, usahakan tidak membeli banyak perabotan.
Tidak memiliki set sofa untuk ruang tamu, itu salah satu keputusan yang kuambil. Selain kurang bermanfaat karena memang jarang menerima tamu juga sangat makan tempat ,baik saat pindahan maupun setelah ditempatkan di ruang baru, belum tentu ruang tamu sama besar dengan rumah sebelumnya 'kan?
Tips dan Trik lain yang sering kami pakai saat pindah rumah adalah;
1. Pakaian Jauh-jauh hari lakukan penyortiran terhadap lemari pakaian. Dari tumpukan pakaian yang memenuhi lemari, pilah-pilih yang sudah tidak mau kita pakai. Jika masih layak bisa kita berikan kepada orang lain. Sisihkan pakaian sehari-hari, segera packing sisanya, beri keterangan di box pakaian apa/siapa saja.
2. Lemari es. Bagi yang hobi berkutat di dapur, tentu lemari pendingin menyimpan banyak sekali bahan makanan/obat. Sortirlah isinya, pelototi tanggal kadaluwarsa yang tercantum di kemasan. Siapkan kantong besar, hancurkan isinya atau jika berbentuk cairan, guyur diselokan dan siram dengan air.
Minggu lalu, saat kerumah teman dan memasak bersama, dengan seijinnya aku membuang sekantong besar marshmallow dari kulkas besarnya yang sudah kadaluwarsa dua tahun yang lalu!. Kadang tanpa kita sadari, kulkas dan dapur menjadi gudang yang menyimpan bahan-bahan mengerikan.
3. Mainan anak. Kecuali masih bayi, biarkan anak menyimpan atau merapikan mainannya sendiri. Beri box plastik bening sebagai wadah mainan anak, sehingga mereka dengan mudah dapat mengenali saat tiba di tempat yang baru. Boneka kucel dan lusuh tentu pilihan paling enak untuk dipeluk ditempat baru nanti.
4. Box dengan Catatan Setiap box yang dilakban diberi catatan, tentu akan sangat memudahkan saat tiba di tempat baru. Kita yang sudah kelelahan -tidak perlu membongkar banyak box hanya untuk menemukan baju tidur si Upik atau celana boxer Ujang!
5. Hubungi Teman Jika tidak menggunakan jasa pelayanan tertentu, pilih hari libur untuk angkut-angkut pindahan dan jauh-jauh hari beritahu beberapa orang teman dekat untuk membantu.
Waktu pindahan rumah kemaren, tumpukan box pakaian, buku, gentong berisi panci, printilan ini-itu, semua sigap membantu mengangkat ke truk yang menunggu di depan lorong begitu juga saat bongkar muatan sekejap mata sudah bertumpuk di rumah baru, menunggu tuan rumah untuk ditata.
6. Berdoa semoga semua berjalan dengan baik dan lancar! .....
How to create a happy home in a house adalah quote indah yang ditulis seorang sahabat saat aku bercerita tentang rumah baru Mama di postingan tentang Xenophobia. Inilah tantangan yang kita hadapi di tempat tinggal baru...
Sering banget 'pindah rumah' jadi pengen ikutanLomba Menulis 'Pindah Rumah' yang diadakan mbak Rinda yang juga mau 'pindah rumah'.....Semoga kita bisa menciptakan dan menemukan a happy home in a house.... Selamat Pindah Rumah ya....
aku juga sering banget ngerasain pindah rumah..pindah kampung,pindah pulau...disini aja baru 7tahun,tapi udah 3 kali pindah!!!!!!..udah mulei profi dah pokokna :-D
Setiap abis lease apartment Kami berencana pindah, tp Sebelum pindahan sudah males duluan, alhasil kami sdh 4th tinggal di apartment yg sama, tips cc rata2 sdh aku jalani hehe, dak punya sofa, karena lemari gak muat, kalo lg summer baju winter dibox in, begitu jg sebalikny, biar gak pindahan aku paling rajin bersihin kulkas n kotak Obat, yg exp masuk tong sampah, satu lg antisipasi blom punya rumah sendiri, kalo beli barang elektronik ato yg pake box, box nya disimpen biar tar kalo mau pindah tinggal masuk lg ke boxnya....miss u cece sayang hehe muach
Mengenai barang yang tidak terpakai, di sini sering dijual di garage sales. Jadi bisa jadi duwit, walaupun sedikit. Selain itu disumbangkan ke non profit organization yang punya toko barang bekas.
Mengenai barang yang tidak terpakai, di sini sering dijual di garage sales. Jadi bisa jadi duwit, walaupun sedikit. Selain itu disumbangkan ke non profit organization yang punya toko barang bekas.
Disini belum ada yang model garage-sales itu (setau aku). Paling ya jual loak atau disumbangkan. Kita disini masih memakai barang2 sampai rusak baru diganti, gimana mau jual lagi. Orang diluar, mungkin karena lebih maju, sering ganti2 perabot baru sehingga yang di garage-sales-kan, masih layak pakai (bahkan masih bagus).
Pindahan kami yang terakhir ini paling banyak meninggalkan barang/perabot lama, walau sayang harus tega. Saat bebongkaran akan pindah baru kami sadar ternyata berdus-dus pakaian dan alat2 rumah tangga lain masih belum dibongkar dari pindahan kami sebelumnya, 5 tahun yang lalu....
aku juga sering banget ngerasain pindah rumah..pindah kampung,pindah pulau...disini aja baru 7tahun,tapi udah 3 kali pindah!!!!!!..udah mulei profi dah pokokna :-D
Pindah kampung, pindah pulau, bahkan pindah benua... Pengalamanmu lebih kaya dan berwarna Rie! Gpp sering pindah... tempat baru selalu ada harapan baru...hahahahaha... *sokteu*
satu lg antisipasi blom punya rumah sendiri, kalo beli barang elektronik ato yg pake box, box nya disimpen biar tar kalo mau pindah tinggal masuk lg ke boxnya....miss u cece sayang hehe muach
Box bekas barang elktrnk emang sebaiknya disimpan, karena sangat memudahkan saat mau dipacking lagi... miss you too Mommy Ninie... ^ ^